MENULIS ARTIKEL ITU GAMPANG
Tulis-menulis merupakan kegiatan siswa yang tidak bisa dipisahkan dengan proses belajar selama menuntut ilmu. Hampir setiap semester siswa harus menulis, baik berupa makalah, laporan kegiatan, laporan penyelidikan, laporan penelitian, laporan percobaan, laporan hasil pengamatan, atau bentuk tulisan lain sehubungan dengan mata pelajaran yang diikuti. Melalui kegiatan tersebut, apabila dilihat dari segi keterampilan berbahasa, diharapkan siswa memiliki wawasan luas dan mendalam, terutama sesuai dengan disiplin ilmu yang dipilih, atau lebih khusus ke topik yang ditentukan.
Kenyataannya, banyak siswa yang beranggapan bahwa tugas menulis di atas merupakan beban berat. Hal tersebut berhubungan dengan tenaga, waktu, perhatian yang sungguh-sungguh, dan keterampilan berbahasa yang dimiliki seorang siswa. Ada juga siswa yang menyatakan bahwa tidak ada gunanya memiliki kemampuan menulis. Itu hanyalah kedok kemalasan dan ketakmauan semata.
Sebenarnya, banyak manfaat yang kita peroleh dari kegiatan menulis.
1. Kita dapat lebih mengenali kemampuan dan potensi diri, terutama pengetahuan tentang suatu topik. Dalam kegiatan menulis, untuk mengembangkan suatu topik, kita harus berpikir, menggali pengetahuan, dan pengalaman, yang barangkali tersimpan di bawah sadar.
2. Kegiatan menulis membantu kita dalam bernalar, mengembangkan gagasan, menghubung-hubungkan serta membanding-bandingkan fakta, opini-realita, yang mungkin tak pernah dilakukan jika kita tidak menulis.
3. Kegiatan menulis membawa kita untuk menyerap, mencari, serta menguasai informasi-informasi sehubungan dengan topik yang kita bahas. Itu berarti kefiatan menulis akan memperluas wawasan kita, baik secara teoretis maupun fakta-fakta.
4. Kegiatan menulis melatih kita untuk menjelaskan suatu masalah yang barangkali dari tak bisa menjadi biasa. Kegiatan menulis melatih kita untuk mengorganisasikan gagasan secara sistematik dan mengungkapkan secara tersurat.
5. Kegiatan menulis melatih kita untuk bersikap objektif serta menilai gagasan kita sendiri.
6. Kegiatan menulis mendorong kita untuk terus belajar secara aktif. Kita berlatih menemukan masalah sekaligus memecahkannya, bukan sekadar menyadap informasi belaka.
7. Kegiatan menulis melatih kita berpikir alternatif dalam memecahkan / menganalisis atau menemukan solusi suatu masalah. Kata orang bijak, “Kebijakan lebih baik berdasarkan kebajikan dan keadilan”.
8. Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan kita berpikir serta berbahasa secara tertib.
Memang, untuk menghasilkan sebuah tulisan, artikel misalnya, dituntut beberapa kemampuan sekaligus, di samping beberapa ciri yang harus dipenuhi. Di antaranya tulisan tersebut bermakna, jelas, lugas, merupakan satu kesatuan bulat, singkat dan padat, serta memenuhi kaidah kebahasaan sehingga tulisan tersebut komunikatif.
Hal di atas mengungkapkan beberapa kemampuan, antara lain betapa perlunya kita harus mengetahui apa yang akan ditulis dan bagaimana cara menuliskannya. Aspek pertama di atas menyangkut isi karangan, sedangkan aspek kedua menyangkut teknik penulisan dan aspek kebahasaan. Semua hal tersebut bertalian erat dengan proses berpikir kita. Wajarlah bila dikatakan bahwa kemampuan menulis merupakan kemampuan yang kompleks, menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Kita harus memilih topik, membatasinya, mengembangkan gagasan, dan menyajikan dalam paragraf yang tersusun secara logis-sistematis. Walaupun begitu, kemampuan menulis bukanlah semata-mata milik orang yang berbakat saja. Siapa saja bisa menulis sejauh dia bersedia berlatih bersungguh-sungguh.
1. Menulis sebagai Proses
Kegiatan menulis memang sebagai suatu proses, dalam arti kegiatan tersebut memiliki beberapa tahap, yaitu tahap prapenulisan, tahap penulisan, dan tahap revisi. Ketiga tahap tersebut memiliki kegiatan utama yang berbeda. Tahap prapenulisan menentukan hal-hal pokok yang mengarahkan kita ke seluruh kegiatan penulisan. Tahap penulisan membawa kita ke arah pengembangan gagasan, baik dalam kalimat, paragraf, sub-sub-bab hingga selesai draft (rancangan) tulisan. Tahap revisi mengajak kita untuk membaca dan menilai kembali tulisan dan bila perlu kita harus memperbaiki, memperluas-mempersempit, dan bahkan mengubah.
Dalam praktiknya ketiga tahap tersebut tak dapat dipisahkan secara jelas, sering tumpang tindih. Secara sistematis tahap tersebut terlihat dalam skema berikut.
Prapenulisan
Penulisan
Revisi
Penentuan topik, penentuan tujuan, pemilihan bahan.
Penyusunan kalimat, paragraf, pilihan kata, dan teknik penulisan.
Baca ulang dan perbaikan.
2. Tahap Prapenulisan
Tahap ini mencakup beberapa langkah berikut:
2.1 Menentukan topik karangan
Topik dapat diperoleh dengan berbagai cara, misalnya melalui pengamatan, pengalaman, atau sumber referensi tertulis. Kita dapat mengamati lingkungan, menulis pendapat, sikap dan tanggapan sendiri maupun orang lain. Jadi, topik dapat kita temukan di mana-mana dan kapan saja.
Dalam artikel ilmiah, topik karangan harus selalu mengenai fakta. Topik yang dipilih lebih baik harus:
a. Layak bahas, artinya perlu dibahas, terutama dari segi ilmu.
b. Bermanfaat bagi pembaca, hidup, dan kegidupan.
c. Menarik, terutama bagi penulis, sebab akan menambah semangat dalam mengembangkan.
d. Dikenali dengan baik, dalam arti pengetahuan kita tentang topik tersebut cukup memadai, bila perlu dicari dan dikumpulkan sumbernya. Pengetahuan fakta dapat diperoleh dari pengamatan lingkungan atau sumber lain, sedangkan refensi teori dapat diperoleh dari buku-buku atau media lian, misalnya website.
e. Bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai, misalnya lewat pengamatan lingkungan atau referensi lain.
f. Tidak terlalu luas atau sempit hingga pembahasan dapat dilakukan secara tepat, proporsional, tak terlalu mendalam, dan tak hanya garis besarnya.
Pembahasan topik dapat dilakukan dengan pola diagram pohon. Kita dapat memecahkan topik-topik setingkat demi setingkat dan menggambarkannya sebagai dahan-dahan, cabang-cabang dan ranting-ranting hingga ke dedaunan. Bagiamana keindahan dan makna pohon tulusan, sangat ditentukan oleh bagimana kita memilih dan mengolah bahannya.
2.2 Membuat kerangka karangan
Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja menulis yang mengandung butir-butir gagasan tulisan. Kerangka karangan membantu kita menulis secara logis dan tertaut, sistematik, proporsional sesuai dengan tujuan, dan menghindarkan kita dari kesalahan yang tak perlu terjadi.
Secara inti manfaat kerangka karangan adalah
a. membantu menyusun gagasan secara teratur
b. menghindarkan pembahasan satu gagasan dua kali
c. mencegah penulis keluar dari sasaran dalam topik dan judul
d. membantu menciptakan gagasan secara sistemtaik dan proporsional untuk pendahuluan, isi, dan penutup
e. membantu penulis dalam mencari bahan untuk pembahasan.
3. Tahap Penulisan
Langkah / proses ini berkaitan dengan tujuan dan bahan yang sekaligus menentukan bentuk karangan. Hal ini sangat erat dengan pengorganisasian gagasan, yang secara umum mengikuti pola ilustratif, analisis, dan argumentatif.
Pola ilustratif menjelaskan suatu gagasan atau prinsip umum secara konkret dan khusus, deduktif. Ilustrasi dapat berupa contoh, perbandingan, atau pertentangan.
Pola analisis menguraikan topik ke dalam bagian-bagian, ke sub-bagian-bagian. Pola analisis ini dapat berbentuk analisis klasifikasi, analisis proses, dan analisis sebab akibat. Analisis klasifikasi berdasarkan penggolongan tertentu; analisis proses untuk pembahasan topik yang mengarah pada bagian yang menggambarkan tahap-tahap atau keterpaduan gerak beberapa unsur; dan analisis sebab akibat digunakan untuk suatu kasus yang dicari faktor penyebab dan akibat-akibatnya.
Tahap penulisan sebenarnya hanyalah pengembangan gagasan kerangka karangan. Satu pokok bahasan dalam kerangka karangan dapat dikembangkan menjadi beberapa paragraf. Untuk itu kita perlu mengetahui pola pengembangan paragraf antara lain perbandingan, contoh, sebab akibat, pertentangan, definisi, klasifikasi, analogi, generalisasi, dan lain-lain. Secara ini tahap ini sangat dipengaruhi oleh kesiapan bahan, referensi, pengalaman, dan kecerdikan berpikir.
Penjang pendek tulisan sering membuat bingung seorang calon penulis. Mereka masih bergulat dengan cara merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, paragraf menjadi wacana, meluruskan logika, menentukan pilihan kata, menaati tata tulis / ejaan, dan lain-lain. Maka, lebih baik mulailah dari sikap berani mencoba dan berani terus menulis.
4. Tahap Revisi
Tahap ini dilakukan bila tulisan sudah selesai sehingga kita meninjaunya dari segi penalaran, sistematika gagasan, teknik penulisan, dan aspek kebahasaan, misalnya tata kalimat, pilihan kata, tata tulis, paragraf, dan lain-lain. Ada yang mengatakan bahwa penulis yang baik tidak pernah merasa puas dengan tulisannya yang sudah selesai atau dimuat di surat kabar sebab bila puas ia akan berhenti menulis dan tak kreatif lagi.
Contoh pembatasan topik
EKONOMI
Inggris Malaysia Indonesia Filipina Jepang Amerika
Problema Potensi
Potensi alam SDM
Kekayaan di lautan Kekayaan darat
Flora Fauna Mineral
Ikan Udang Kerang Mutiara dll.
Pembudidayaan Pemasaran dll.
Setelah topik ditentukan, kita harus membuat judul karangan. Topik merupakan pokok pembicaraan karangan, sedangkan judul merupakan titel, label, atau nama karangan. Dalam karangan formal atau ilmiah judul harus tepat, sesuai dengan topiknya.
Untuk menentukan judul perhatikan hal-hal berikut:
1. Sesuai dengan topik atau isi karangan beserta jangkauannya.
2. Dinyatakan dalam frasa benda, bukan dalam bentuk kalimat. Kalimat batasan topik dapat dijadikan judul dengan jalan mengubah menjadi frasa nominal.Misalnya, “Kerajinan kulit kerang di Pasang Surut perlu dibudidayakan” menjadi “Pembudidayaan Kerajinan Kulit Kerang di Pasang Surut”.
3. Singkat dan jelas operasionalnya, tak bermakna ganda atau konotatif. Misalnya, “Mengenal Neraka Dunia Jakarta”, kurang tepat untuk karangan ilmiah hasil pengamatan terhadap keadaan ekonomi masyarakat akibat krisis moneter.
Ada sebuah pepatah kuno mengatakan sebagai berikut:
Panjang Tulisan
Bayang-bayang sepanjang badan
Tulisan lebih baik sepanjang badan
Sebelum habis, teruslah menulis!
Bagitu habis, berhentilah menulis!
Jika bahan belum habis, Anda berhenti menulis
Tulisan Anda banyak bolongnya.
Jika bahan habis, Anda belum berhenti menulis
Tulisan Anda banyak bohongnya
Memang, membaca meerupakan sarana utama menuju ke keterampilan menulis. Penulis harus mempunyai latar belakang pengetahuan yang luas, banyak bahan untuk ditulis, well rounded man, peka terhadap fenomena, bersikap kritis, selektif terhadap informasi, berpikir berjarak, cerdas dalam menganalisis, objektif dan rendah hati.
Hal di atas hanyalah petunjuk umum yang perlu kita perhatikan agar dapat menulis dengan mudah. Semuanya bukan kaidah yang harus dihafalkan. Menghafal tak membuat orang pintar, malahan menghambat kreativitas kita. Petunjuk ini hanya sekadar untuk diketahui dan dapat dipakai sebagi acuan. Terakhir, semua keterampilan dapat dimiliki jika kita rajin berlatih dengan cara benar, tepat, efektif, dan efisien.
Selamat mencoba!
Bangau, Oktober 2004
